Up Where We Belong travel blog

 


cerita sex Ini pengalamanku yang termasuk paling unik. Ceritanya dimulai dari keisenganku yang sering tidak ada ujungnya. Salah satu pegawai di ruanganku adalah wanita yang sangat gemuk .

Usianya mungkin sudah mendekati 30 tahun dan belum kawin. Aku yakin dia juga belum pernah berpacaran. Wajahnya sih lumayan manis, tapi gemuknya itu, yang membuat kaum pria rada enggan berakrabakrab untuk selanjutnya berpacaran.

Ruang kerjaku memang teramat luas, dan semua meja terhubung dengan internet. Kalau kerja sedang senggang aku sering chatting. Kuperhatikan kalau aku melintas di belakang kursi si Rini yang gemuk itu dia juga sering chating.

Sepanjang aku bekerja di situ belum pernah kulihat Si Rini diajak makan siang seesorang. Aku termasuk pemburu makanan enak dan murah. Wisata kuliner sering kali membuat temanku yang kuajak makan geleng kepala. Karena untuk makan siang kadangkadang aku memerlukan memacu mobilku dari Jakarta ke Bogor.

Emi sering aku goda, maksudnya bukan menggoda kearah yang tidaktidak, tapi hanya sekedar melampiaskan keusilanku saja. Dia memang akrab dengan ku. Aku sebenarnya kasihan melihat keadaannya. Dibalik sosoknya yang kelihatan mandiri, tetapi aku menangkap ada rasa minder atau rendah diri yang ada dalam dirinya. Mungkin kalau tidak jeli pembawaan itu tidak mudah terlihat, tetapi aku yang sering ngobrol sama dia bisa menangkap rasa itu pada dirinya.

Godaan ku yang paling sering kulontarkan adalah setiap kali ketemu selalu ku sapa

Eh kok sekarang keliahatan agak kurusan,. Biasanya kalau aku goda begitu dia lalu memonyongkan bibirnya.

Sapaan itu memang aku lontarkan kepada siapa saja teman wanita ku yang lama tidak bertemu. Biasanya mereka merasa tersanjung. Mudah aja buat wanita tersanjung.

Aku sama sekali tidak pernah berencana memacari si Rini. Selain aku udah punya bini dan 2 anak, Lagian ngapain cari penyakit macarin temen sekantor dan gemuk pula.

Tapi khayalanku yang tidak ada tepinya tibatiba memunculkan pertanyaan,

Sebagai wanita Rini pastinya punya juga keinginan untuk bermesraan atau bahkan merasakan rangsangan sex dari lelaki.

Namun karena keadaannya yang tambun, tidak pernah ada lakilaki yang berani menantangnya apalagi mendekatinya. Kasihan juga nasib wanita, posturnya membuat dia sulit mendapat teman kencan. Sebaliknya kalau lakilaki biar gemuk dan sudah tua, masih bisa menyabet cewek cantik malah abg. Eh maaf ya kaum perempuan bukan maksudku merendahkan, tapi itulah yang ada dalam pikiranku.

Lamalama desakan untuk menanyakan soal apakah Rini punya keinginan sex, makin membesar di dalam pikiranku. Tapi mana mungkin aku berani menanyakan dengan langsung bertatap muka. Katakata apapun yang menyelimuti dan dihias, jika intinya menanyakan hal itu, rasanya sulit.

Sebenarnya di balik pertanyaan penasaran itu, aku sebenarnya ingin membantu dia merasakan rangsangan sex. Kurasa tidak ada lakilaki yang berani menawarkan diri membantu Rini untuk mendapatkan rangsangan sex. Mungkin juga lakilaki lain jengah mencumbui wanita gemuk, atau kalaupun ada yang mau, tidak menemukan katakata untuk menyampaikan maksudnya itu, seperti yang kualami.

Aku menjadi teman sekantornya yang paling akrab. Apalagi dia sering aku ajak berpetulang makan siang. Kadangkadang bahkan sampai makan malam dengan mengunjungi tempattempat baru.

Pada awalnya dia bertanya pada diriku,

apa kamu nggak malu jalan ama cewek segemuk aku.

Aku tau dia hanya ingin memastikan dirinya bahwa aku tidak mempersoalkan bentuk tubuhnya yang super gemuk itu. Aku jawab

jalan ama neneknenek ke dufan aja aku gak malu, kenapa sama kamu harus jadi malu,

Mungkin jawaban itu tidak dia sangka mengarah ke situ. Dia geli dan meninju lenganku sambil sebelah tangannya menutup mulutnya yang sedang tertawa geli.

Meski kelihatannya sering, tapi sebenarnya makan siang bareng dia paling banyak sebulan 3 kali dan makan malam paling 2 kali.

Suatu kali aku bertanya, apakah dia pernah menikmati suasana cafe sambil mendengar musik sampai larut malam. Jawabannya seperti sudah kuduga adalah belum.

Aku berniat memperkenalkan dirinya mengenai kehidupan dugem, agar pengalaman hidupnya dimasa muda lebih lengkap. Tawaran itu, pada mulanya agak ragu dia terima. Bukan masalah pulang malam, karena pulang malam bagi dia tidak ada masalah, sebab tinggal di tempat kost yang bebas keluar masuk jam berapa pun pulang tidak masalah.

Yang membuat dia canggung adalah aku harus keluar banyak duit hanya untuk menyenangkan dirinya. Setelah kuyakinkan bahwa meski aku kerja di bagian marketing yang pendapatannya cukup besar, aku juga mendapat penghasilan yang cukup besar, malah lebih besar dari gajiku dari bermain forex di internet. So sejauh ini duit bagiku tidak terlalu masalah.

Eh perlu juga aku jelaskan pada kalian bahwa jam kerjaku sering tidak menentu, sehingga aku tidak terkena ketentuan harus pulang pada jamjam tertentu. Istriku memahami itu, karena sejak pacaran ritme kerja dan hidupku memang begitu.

Aku dan Rini sejauh ini sudah menjelajah ke beberapa tempat dugem, dari yang bersuasana rada bule sampai yang bersuana giting di wilayah Jakarta kota.

Sejauh ini aku tidak merasa berpecaran dengan Rini, kurasa dia pun merasa begitu. Tidak ada kata atau tindakanku yang mengarah mengajak dia menjadi pacarku. Dia pun begitu. Meski kadang menggandeng atau merangkulku kalau dia rada berat kepalanya kebanyak minum wine. Tetapi aku tetap membawa diri sebagai seorang teman. Itu saja.

Di kantor tidak pula terlihat bahwa aku sering jalan dengan Rini. Aku memang mengakrabi siapa saja cewek di kantorku. Makan siang bukan hanya ngajak Rini, tapi cewekcewek kantor lainnya juga demikian.

Misiku terhadap Rini hanya untuk membuka wawasannya sebagai wanita yang hidup di kota besar. Kalau tidak ada cowok yang ngajak, mana mungkin dia tau kehidupan dugem. Sebetulnya apa perlunya membuka wawasan soal dugem, kalau gak tau juga gak apaapa sih. Tapi maksudku Rini yang gembrot itu tidak perlu terkungkung dalam perasaan rendah diri.

Nyatanya setelah hampir 5 bulan aku sering ngajak Rini, dia emang tampil lebih percaya diri. Tapi itu menurut pandangku, mudahmudahan nggak salah ah.

Dari pergaulanku dengan Rini itulah kemudian timbul, keisenganku. Bagaimana ya rasanya main sex ama cewek yang super gendut. Tapi di samping itu aku juga ingin jadi sukarelawan untuk menyediakan diri menjadi patner sex si gembrot.

Sebetulnya ide itu bukan timbul sejak awal, tetapi muncul setelah aku jalan bareng. Sebetulnya aku sama sekali tidak tertarik secara seksual terhadap Rini. Makanya meskipun dia pelukpeluk aku, aku tidak merespon sebagai lakilaki yang menginginkannya. Kurasa dia pun tidak bermaksud menggodaku. Jadi persahabatan kami adalah murni, berkawan saja.

Namun sebagai lakilaki kadangkadang terusik juga oleh keinginan cobacoba. Banyak sudah yang pernah kucoba, dari yang masih sangat muda sampai yang sudah cukup berumur. Ada beberapa pula yang sampai tulisan ini kubuat kami bermain di saat saling membutuhkan.

Aku berhubungan dengan beberapa wanita sama sekali tanpa landasan cinta. Aku menyenangi dia karena menarik, smart dan bicaranya nyambung. Mereka juga begitu mau akrab denganku karena aku dianggap menyenangkan dalam bergaul dan pandai menjaga hati perempuan.

Sebagai sahabat tentu aku dan Rini sering berbagai cerita mengenai berbagai masalah hidup. Dia kelihatannya cukup percaya terhadapku, sehingga sering dia curhat. Namun curhat itu sama sekali tidak ada yang menyinggung soal sex. Jadi aku pun tidak pula mau memulai bicara soal itu. Padahal di dalam benakku ada rasa penasaran

mau gak kamu aku penuhi keinginan sex mu. Tapi bagaimana cara mengutarakannya.

Berbicara tatap muka kadangkadang terkendala oleh malu, makanya meski aku dan Rini sekantor, kami sering chating untuk menyampaikan berbagai masalah yang kalau diucapkan langsung dengan katakata tidak akan terlontar.

Satu kali entah darimana datangnya keberanian, ketika chating terlontar pertanyaanku.

kamu pernah gak dicium cowok.

Setelah terkirim aku terkesiap, kaget. Malu rasanya kalau dia sampai merespon negatif.

Lama dia tidak menjawab dan aku pun diam saja. Mana mungkin aku tarik lagi katakataku itu.

Belum gimana sih rasanya, aku pingin, tapi orang gak punya cowok, jawaban yang sama sekali tidak aku duga.

Merasa mendapat lampu hijau, aku melanjutkan dengan

kenapa harus punya cowok kalau hanya ingin merasakan ciuman,

Maksudnya, katanya

Cukup lama aku memikirkan untuk menyusun katakata untuk mereply agar tidak menyinggung tapi juga sekaligus menjawab.

Saya siap membantu , jika tuan putri menginginkan kata ku .

Maksudnya tanya dia lagi.

Aku langsung menangkap bahwa dia suka jika aku melakukan untuknya, namun dia masih menjaga harga diri.

Maksudnya gini lho, aku siap mencium kamu kalau diizinkan, kata ku nekat.

Dia tidak membalas.

Kalau dia tersinggung atau marah pasti dia sudah membalas dengan katakata yang negatif. Tapi rasanya untuk mengatakan,

Oke deh gua mau tak mungkin berani dia katakan. Jadi diam nya dia menurut terawanganku dia memberi signal lampu hijau.

Ntar disambung lagi, gue ada kerjaan , katanya.

Sekarang aku yang pusing berpikir, dimana dia akan aku cium. Kalau langsung dibawa ke motel, rasanya terlalu pagi untuk ambil keputusan begitu.

Di mobil kayaknya sudah cukup memadailah, toh sekedar ngajari ciuman. Lagipula lapangan parkir kantorku ini cukup aman untuk melakukan kegitan semacam itu.

Bahkan lebih dari itu sering kulakukan. Saat TTM ku menginginkan ku kadangkadang dia parkir di sebelah mobilku. Kami melakukan di mobil, kalau tidak dimobilku ya di mobil dia. Kaca mobil kami sama sama tidak tembus pandang kalau malam hari.

Makan bebek goreng yuk ntar malam, aku dapat alamat baru, ajakku melalui chatting.

ah kamu selalu menggagalkan program dietku. jawabnya.

Ah diet itu masalah gampang, kamu pasti bisa turun beratnya kalau tidak makan pedas, kataku.

Aduh sulit meninggalkan cabe, katanya.

Aku tau dia memang maniak makanan pedas. Kalau tidak ada sambal dia sama sekali memang tidak selera makan.

Aku sudah menyusun rencana. Jam 7.30 malam aku kode supaya kita menyelesaikan pekerjaan dan langsung menuju parkiran mobilku.

Mobil aku hidupkan dan AC segera kunyalakan. Suasana mobil yang tadinya panas dan pengap berangsurangsur sejuk dan nyaman. Aku tidak segera begerak, tetapi tetap bertahan di tempat parkiran.

Lho kok nggak jalanjalan, tanyanya.

Mesin lalu kumatikan setelah suhu cabin cukup dingin.

Tanpa menunggu abaaba dia langsung aku sergap dan langsung kucucup bibirnya. Bibirku kubenamkan di bibirnya. Bibir kami bertemu pada awalnya kurang tepat, tapi itu hanya berlangsung sesaat. Disaat dia terperanjat aku sudah mendekap badanku ke badannya dan bibirku sudah mencakup pada posisi yang tepat.

Rini kelihatannya bingung harus bereaksi bagaimana. Tapi aku sudah meningkatkan serang dengan menyedot kuat bibirnya dan mulai memainkan lidahnya. Terasa sekali jika Rini belum pernah berciuman , karena responnya yang masih bingung.

Tanganku mulai mengelus rambutnya. Gerakan ini cukup efektif memberi ketenangan, sehingga gerakannya yang semula ingin berontak jadi melemah. Secara naluri dia mulai merespon lidahku dan kami berpagutan erat sekali. Aku membiarkan naluri birahiku menuntun ritme ciuman,yang aku yakini energi birahiku akan mengaliri tubuh Rini sehingga birahinya juga bangkit. Hampir 5 menit kami bertemu mulut. Liur tumpah menetes. Tidak jelas ludah siapa yang meleleh, tetapi baik mulutku maupun mulutnya banjir air liur. Sebelum dia tersadar, aku segera meraih tissu dan menghapus sisa liur kami yang tumpah.

Rini malu dia menyandarkan kepalanya ke dadaku sesaat setelah ciuman kami terlepas.

Tanganku segera maraih tuas sandaran kursi tempat Rini bersandar dan selanjutnya sandaran kursiku juga aku rebahkan. Rini aku posisikan terlentang. Nafasnya mulai memburu, suatu pertanda nafsu birahinya mulai bangkit. Kuciumi keningnya, pipinya, lalu telinganya kiri dan kanan. Aku kemudian dipeluknya erat sekali. Aku pun merespon memeluknya. Tanganku menggapai punggungnya. Disana terasa lemak yang sangat tebal dan empuk.

Sesaat kemudian pelukannya melonggar dan aku kembali beroperasi menciumi lehernya , untuk menjaga agar rpm birahinya tidak turun. Mendapat serangan dari lakilaki untuk pertama kalinya membuat dia tidak tahu harus berbuat apa. Nafasnya memburu, dan aku merasa detak jantungnya berdebar cepat.

Untuk menaikkan rpmnya aku kembali mencucup bibirnya. Kali ini ia mersepon dengan tepat. Bibirku dan mulutku disedotnya kuat sekali. Aku membiarkan menuruti kemauannya. Rasanya nyaman sekali menyium mulut Rini karena terasa aroma pepermint. Dugaanku dia sudah bersiap sedia untuk dicium sehingga dia menjaga bau mulutnya .

Meskipun aku ingin lebih dari sekedar berciuman, aku berusaha menahan diri untuk tidak merambah ke lain tempat. Padahal tanganku sudah gatal ingin meremas teteknya yang terasa empuk dan cukup tebal ketika menempel di dadaku.

Setelah berciuman seru sekitar 10 menit aku kembali ke sisiku telentang di kursi yang rebah dan Rini juga rebah di kursi disamping ku. Beberapa saat kami terdiam. Hanya tangan kiriku yang meremas tangan kanannya dan dia membalas meremas juga.

Terus terang aku hampir kehabisan nafas mentraining Rini berciuman. Meski bibirnya tebal dan enak dikenyot, tetapi posisi yang kurang leluasa di mobil membuatku mengeluarkan tenaga ekstra untuk mengatur posisi menyerang Rini.

Aku sebenarnya kurang bisa menikmati nikmatnya berciuman. Bagiku ciuman hanya stater untuk membangkitkan birahi pasanganku. Rasanya mengawali cumbuan yang paling sah adalah berciuman terlebih dahulu.

Sorry ya Mi aku tadi langsung nyosor tanpa minta izin. Abis kalau mau ciuman pake minta izin dulu rasanya koq lucu. Kata ku, setelah kudengar Rini mereda nafasnya.

Kamu jahat , tapi enak koq, makasih ya , aku rasanya bahagia sekali malam ini bisa merasakan seperti yang dirasai cewekcewek lain, katanya.

Aku merasa trenyuh di dalam hati mendengar pengakuan polosnya.

Your wellcome Mi, kalau perlu bantuan lainnya jangan malumalu bilang ke aku, yuk sekarang kita menuju bebek.

Malam itu terlihat wajah Rini berseriseri. Rasa bahagianya terpancar ketika aku duduk berhadapan di warung bebek goreng. Sebelum turun ke tempat kostnya kami sempat berciuman sebentar, dan tampaknya dia kembali bernafsu.

Di kantor sikap kami biasbiasa saja. Namun pembicaraan di chatting makin hot.. Dia katanya banyak membuka informasi mengenai ciuman sampaisampai dia menyebutkan teknik berciuman berbagai rupa.

Aku membalas dengan mengatakan teknik itu tidak bisa dilakukan leluasa kalau di dalam mobil. Itu membutuhkan tempat yang khusus. Kapan dia merasa siap aku menyiapkan diri untuk membawanya melayang lebih tinggi dengan berbagai teknik ciuman yang katanya ingin dia coba.

Pada awalnya dia agak ragu menyanggupi ketika kutawari bercumbu di hotel. Tetapi dengan rayuan yang masuk akal, akhirnya dia mau juga aku giring ke hotel. Aku sengaja menyebutnya hotel, meski yang kumaksud adalah motel. Sebab jika aku sebut motel, nanti dia akan banyak bertanya yang bisabisa dia malah mundur, kalau akhirnya tahu bahwa motel itu adalah tempat khusus untuk eksekusi.Pada suatu hari Sabtu yang telah kami sepakati aku menjemputnya sekitar jam 10 untuk menyambung cumbuan di motel. Sebelumnya aku menyempatkan membeli makanan kecil dan dua bungkus mi pangsit.

Aku tidak ingin kemesraan ku terputus hanya garagara ada room service mengantar makanan.

Rini agak ragu melangkah ketika pintu garasi motel tertutup. Tapi kuyakinkan bahwa tidak perlu takut, Aku tetap memegang komitment melakukan sejauh yang dia inginkan.

Dia agak canggung melangkah masuk ke dalam motel. Namun setelah kugandeng dan kugiring untuk duduk di tepi tempat tidur, dia akhirnya nurut.

Kusarankan dia untuk melepas hajat ke kamar mandi, setelah sebelumnya aku membuang cairan di kantong kemihku. Untuk menghadapi kemungkinan terjauh, aku sudah menyabuni barangku sehingga aroma wangi sabun menyelimuti barangku.

Rini menuruti saranku dia menuju kamar mandi dengan tak lupa mengunci pintunya. Aku dalam hati hanya tersenyum, karena pada saat nya nanti dia bahkan tidak perlu menutup pintu kamar mandi.

Sementara dia melakukan ritual di kamar mandi aku mencari chanel musik di televisi. Aku bertahan duduk di pinggir bed menunggu dia selesai beraktivitas di kamar mandi.

Dia agak malu melangkah mendekatiku, tangannya kutarik agar duduk disampingku. Bagitu duduk aku langsung merangkul pundaknya dan mulailah ritual berciuman. Seperti semula dia agak malu menyambut serbuan mulutku. Ini aku maklumi, karena birahinya belum on. Aku harus meningkatkan rpm birahinya agar dia mulai berkurang rasa malunya.

Ciuman sekitar hampir sepuluh menit berhasil menaikkan birahinya, ditandai dengan nafasnya yang makin cepat. Hembusan nafasnya makin keras. Ketika kutarik untuk berbaring dia menurutiku dengn melemaskan badannya. Kakinya masih tergantung disisi bed sementara aku mulai merangkulnya.

Berbagai teknik ciuman kami praktekkan sampai sampai dia tidak sadar bahwa kedua kakinya sudah naik seluruhnya ke atas tempat tidur. Aku mengambil posisi telungkup sedang Rini telentang. Tangan kanannya tidak sempat lolos dari tindihan badanku. Ini memang aku sengaja dan dengan gerakan yang seperti tidak sengaja aku menepatkan posisi alat vitalku yang masih terbungkus celana berada persis di atas telapak tangannya. Dia pasti merasakan kerasnya senjataku menekan telapak tangannya. Aku juga menekan beban badanku sepenuhnya ke tangannya sehingga tangannya makin tertekan oleh senjataku yang sudah mengeras.

Telapak tangannya terasa tidak bergerak, tetapi dengan gerakan yang seolaholah tidak sengaja aku menggoyanggoyang senjataku menekan telapak tangannya. Meski rasanya dia agak ragu, tetapi telapak tanganya mulai bereaksi menggamit alat vitalku yang mengeras. Aku coba mengangkat sedikit posisi badanku sehingga tidak terlalu menindih telapaknya, tetapi telapaknya mengejar alat vitalku yang bergaerak agak menjauh sedikit.

Pancinganku berhasil. Rini rasanya sudah tidak raguragu lagi dia mulai meremasremas celanaku yang menyimpan alat vital kebanggaanku.

Setelah aku yakin dia tidak lagi malu meremas barangku aku mengubah posisiku tidur telentang di sampingnya. Otomatis telapak tangannya terlepas dari senjataku. Kubimbing tangannnya untuk hinggap di atas celanaku yang membusung. Tangannya melemas menuruti arahanku. Begitu berada diatas alat vitalku telapak tangannya aku bantu untuk meremas. Dia kembali meremas. Sambil aku ciumi pipinya tanganku yang satu lagi secara hati hati membuka ikat pinggangku lalu kaitan atas celanaku. Sambil pura pura membantu tangannya meremas barangku aku menurunkan resleting celanaku sampai barangku tinggal terlapisi celana dalam.

Pembungkus yang tipis dan elastis celana dalamku membuat dia menemukan bentuk alat vitalku yang makin jelas. Dia terus meremas dan remasannya makin keras. Ini berarti aku diperbolehkan membuka celana dalamku. Kugeser kebawah celana dalamku sambil membimbing telapak tangannya menemukan alat vital yang sudah tanpa penutup lagi. Merasa dia menyentuh alat vitalku langsung, dia berhenti sebentar. Aku lalu memegang tangannya dan memberi isyarat agar dia meneruskan remasannya. Rini kembali meremas. Dia bukan hanya meremas tetapi sudah menggenggam batang alat vitalku.

keras banget ya, katanya

Dia terus meremas sementara aku mulai memelorotkan seluruh bagian bawahku sampai terlepas. Tangannya mengeksplor seluruh kemaluanku. Semua dia jamah sampai ke kantong menyan di remasremas.

Aduh jangan keraskeras bagian itu sakit kalau terlalu keras di remas,kataku.

Penasaran ingin melihat bentuk yang sesungguhnya Rini bangkit dari tidurnya dan duduk disamping aku yang berbaring . Kubiarkan dia memperhatikan seluruh bentuk senjata andalanku. Yang menjulang bebas tegak kokoh.

Selama ini aku hanya lihat digambar dan filmfilm, katanya mengomentari pemandangan yang terhidang didepannya.

Sekarang puaspuasin deh menonton yang aslinya kataku.

Aku minta izin sebentar untuk membuka bajuku dengan alasan takut kusut bajuku. Alasan yang masuk akal itu memberi kesesempatan bagiku untuk bertelanjang bulat di depannya.

Aku kembali berbaring, sementara Rini kembali menggenggam batangku yang semakin keras dan semakin tegak. Sementara itu Rini masih berpakaian lengkap, dengan celana jean yang ketat karena memang pahanya yang besar.

Aku biarkan untuk sementara waktu dia menutupi tubuhnya, sampai saatnya nanti dia akan dibuka juga bajunya.

Aku ajari dia untuk mengenggam batangku sambil melakukan gerakan naik turun. Sementara dia melakukan itu aku berpurapura keenakan sambil mendesis dan mengerang. Rupanya reaksiku itu memancing dia tambah semangat mengocok batangku.

Kalau aku biarkan terus, peluruku bisa melesat keluar. Kutahan kocokannya, dengan alasan batangku terasa panas dan pedih.

Kalau kamu suka kamu boleh mencium, kataku.

Emang rasanya kaya apa, apa lebih enak ya kalau dicium, tanyanya.

Aku membenarkan dicium akan menimbulkan kenikmatan yang lebih tingi, kataku.

Perlahanlahan direndahkan wajahnya dan dia mulai menciumi batangku . Sambil dia mencium, tanganku yang satu mengusapusap kepalanya dan yang satu lagi mengarahkan agar batangku masuk ke dalam mulutnya. Meski agak lama tetapi akhirnya berhasil juga sedikit kepala alat vitalku masuk kemulutnya.

Dia mulanya agak ragu melomot batangku. Namun ketika, kepala barangku sudah berada di dalam mulutnya aku menekan kepalanya dan badanku kudorong keatas sehingga makin banyak batangku masuk ke dalam mulutnya.

Aduh batangku kegerus giginya. Kuminta agar giginya tidak mengenai batangku. Dia menuruti dan mulai melakukan lomotan naik turun. Hanya dalam waktu singkat dia sudah mahir mengoralku.

Dia tibatiba komplain, karena mulutnya merasa ada lendir dari kemaluanku dan terasa sedikit asin, sehingga dia berhenti mengoralku. Terpaksa kujelaskan cairan itu adalam pre cum, suatu cairan yang secara alamiah membantu pelumasan.

Untunglah dia berhenti, kalau diteruskan aku bisa muncrat.

Rini lalu kubaringkan. Aku memindihnya dan mulai kembali mencium mulutnya dan perlahanlahan turun ke leher. Sambil menciumi aku berusaha membuka kancing bajunya satu persatu dengan gerakan hatihati. Sampai batas BHnya terlihat tanganku mulai menjamah susunya yang ternyata cukup gembul terbungkus BH berukuran cukup besar. Banyak sekali lemak di situ, membuatku geram untuk meremas. Mulanya temasanku ditahannya. Tetapi rasanya dia menahannya tidak sungguhsungguh. Aku kembali meremas susu yang masih terbungkus BH. Setelah aku dibebaskan memeras susu kiri kanannya tanganku mulai menelusup ke bagian belakang tubuhnya untuk mencari kaitan BH. Tangan yang memang terlatih dengan mudah melepas kaitan BH.

Kusibak penutup susunya dan aku kini meremas langsung susunya. Rini pasrah di perlakukan begitu. Sampai akhirnya aku mulai memilin dan menjilat sekitar puting susunya. Puting susunya tidak terlalu besar. Dengan jilatan yang terlatih, birahi Rini makin tinggi.

Mungkin kesadarannya tingal setengah sehingga dia tidak merasa ketika tanganku mulai membuka kaitan celana jeannya. Resleteing berhasil dibuka . Tanganku langsung membekap gudukan kemaluannya yang masih terbungkus celana dalam. Tanganku agak ditahannya. Tapi karena kesadarannya sudah tersaput birahi, Pertahanan tangannya tidak terlalu kuat. Begitu tanganku agak bebas aku mencari jalan untuk menelusup dari atas celana dalamnya untuk menyuruk ke bawah. Dengan satu gerakan cepat, jari tengahku sudah menemukan belahan kemaluannya yang terasa membanjir.

Jari tengah yang terlatih ini dengan mudah menemukan clitoris. Dititik klitoris itulah ujung jariku mulai bermain. Kenikmatan yang dibangkitkan dari permainan jari tengahku di klitorisnya membuat pinggulnya bergoyanggoyang . dia tidak hanya begitu tapi sudah mulai mendesis dan mendesah. Rasa malunya sudah lenyap, tinggal nafsu birahi yang berkuasa.

Aku meneruskan mempermainkan klitorisnya dengan target dia mencapai orgasme. Beberapa saat kemudian tangannya menekan tanganku yang menangkup di kemaluannya. Aku tahu dia mencapai orgasme, maka tarian jari tengahku kuhentikan, Terasa kemaluannya berdenyutdenyut dan belahan kemaluannya makin banjir. Aku menunggu sampai denyutannya mereda lalu kutarik tanganku keluar dari gundukan kemaluannya.

Aku tidak ragu lagi lalu berusaha membuka seluruh celananya. Rini pasrah malah memberi ruang agar aku lebih mudah membuka semua celananya.

Kami berpelukan bugil.

Dari samping aku memandangi banyaknya tumpukan lemak mulai dari susunya, perutnya sampai pahanya.

Tanganku kembali bermain di kemaluannya yang hanya ditutupi bulu agak jarang. Sementara kedua putingnya kuserang dengan jilatan lidahku.

Rini sudah terangsang berat. Pelanpelan aku ciumi kebawah arah perut, lalu perlahanlahan kulebarkan kedua kakinya. Dia agak menahan, mungkin masih ada sisa rasa malu yang belum lenyap. Kubiarkan dia bersikukuh begitu, tetapi serangan jilatanku makin kebawah sampai akhirnya mencapai belahan kemaluannya. Lidah yang trampil dengan segera mencari titik clitoris. Agak susah juga menemukan karena timbunan lemak yang terlalu tebal dan kakinya kurang membuka. Tetapi jilatan disekitar kemaluannya membuat dia mau juga melonggarkan kakinya sehingga lidahku bisa menemukan ujung lipatan kemaluan dimana bertengger clitoris yang sudah mencuat mengeras.

Serbuan ke pusat syaraf birahi membuat Rini seperti kesurupan. Dia tidak perduli lagi sehingga membebaskan aku membuka pahanya lebar dan menekuknya ke atas. Ketebalan kemaluannya karena lemak yang banyak disitu membuatku agak sulit memposisikan mulutku manangkup kemaluannya tanpa hidungku tertutup.

Sampai akhirnya mendapat posisi yang pas aku mulai menyerbu klitorisnya. Rini mengerangngerang sejadijadinya menimpali kenikmatan yang dia rasakan. Dia tidak bisa bertahan lama sampai akhirnya mencapai orgasme yang kedua. Kepalaku dijepitnya dengan dua paha yang minta ampun besarnya. Untungnya aku masih punya ruang sedikit untuk bernafas. Setelah orgasmenya berakhir, jari tengahku pelanpelan aku sodokkan ke dalam lubang memeknya. Tujuanku mencari G spot. Agak sulit juga menemukan G spotnya karena dinding memeknya penuh dengan timbunan lemak.

Aku harus meningkatkan konsentrasi dan kepekaan sampai akhirnya menemukan tonjolan daging agak mengeras di dinding atas memeknya tidak jauh dari lubang kencingnya. Tonjolan g spot itu aku gosok halus dengan ritme teratur dan pelan. Mulanya dia mengejang setiap kali kugosok. Namun lamalama dia bergerak, sehingga aku sering terpelset dan kehilangan titik incaranku. Aku berusaha menahan agar Rini tidak terlalu liar bergerak, sambil aku terus menggosok G spotnya. Tibatiba dia menjerit dan kakinya menjepit. Aku merasa denyutan orgasme serta banjir cairan memek sampai membasahi sprei. Agak panjang juga jeritannya . Rini lupa diri ketika mencapai orgasme yang tertingginya.

Telapak tanganku ditekannya keseluruh permukaan kemaluannya sehingga aku merasa denyutan orgasme yang agak panjang waktunya.

Kutunggu sampai denyutan itu selesai lalu tanganku kulepas dari gundukan memeknya.

Aku mengambil posisi berbaring disampingnya. Menyadari aku disampingnya Rini lantas memelukku dan bagian kemaluannya ditekankan ke pahaku kuatkuat. Sesekali aku masih merasa ada denyutan yang ritmenya agak jarang. Mungkin itu sisa orgasmenya.

Rini kemudian menarik badanku agar berada diatas tubuhnya. Kuturuti saja kemauannya. Rasanya dia memposisikan agar memeknya bertemu dengan batangku. Tapi dia tidak tahu bagaimana selanjutnya. Dia hanya menekannekankan kemaluannya ke kemaluanku.

Aku paham maunya Rini . Aku bangkit dan mencoba memposisikan ujung alat vitalnya tepat berada di depan memeknya yang sudah licin dan kuyup. Kugesek kemaluanku keatas kebawah sampai akhirnya terlumuri cairan memeknya di seluruh ujung alat vitalku. Kepalanya sudah berada tepat di gerbang kemaluannya. Aku tekan sedikit, terasa kepala vitalku sedikit terbenam. Aku agak sulit merasakan apakah dia sudah terbenam di dalam liang memeknya atau baru terjepit bibirnya yang tebal. Untuk meyakinkannya aku dorong sedikit. Karena licin rasanya mudah saja batangku maju, sampai akhirnya terhalang sesuatu. Ini mungkin selaput daranya. Aku tidak berani masuk lebih jauh lagi.

Aku memang tidak bermaksud menorobos keperawannya, sehingga aku berhenti dan maju mundur pada batas itu. Itupun rasanya udah enak juga karena jepitan kemaluannya yang tebal lemak sudah serasa menjepit. Sampai rasanya aku hampir mencapai orgasme aku berhenti bergerak. Tangan Rini keduanya berada di pantatku. Ketika aku berhenti bergerak terasa tangannya menekan pantatku agar maju. Mulanya aku bertahan agar tidak maju lagi, sebab, jika aku maju, maka terteroboslah selaput keperawannya.

Tapi antara akal sehat dan nafsu keadaannya sudah tidak seimbang, apalagi tangan Rini seperti mengajurkan aku maju terus menerobos.Ketika kemaluanku mentok tidak bisa maju lagi, dan tangan Rini menekan pantatku, pelanpelan aku tekan sampai akhirnyanya jebol juga pertahanan perawannya. Rini menjerit lirih dan mendesis. Pastinya dia merasa perih, karena air matanya mengalir dari kedua ujung matanya. Seluruh kemaluanku sudah terbenam, tetapi aku merasa , pembenamannya belum sempurna. Kutekuk kedua kakinya dan kulebarkan. Pada posisi itu batangku bisa melesak lebih dalam lagi. Aku menggenjot dengan irama lambat sampai akhirnya orgasmeku datang dan kubenamkan dalamdalam batangku dan kusemburkan kandungan cairan maniku kedalam memek Rini.

Kuhempaskan badanku menindih ke Rini. Aku merasakan sensasi tubuh gemuk yang empuk. Badannya yang berselimut lemak tebal, rasanya empuk benar ditindih. Setelah menikmati orgasme, aku menikmati kasur hidup untuk beberapa waktu.

Aku lalu berbaring disampingnya. Rini terlihat sangat lelah di tertidur dan tak lama kemudian mulai mendegkur halus. Aku sering memperhatikan, jika cewek mencapai orgasmenya yang tertinggi, maka dia akan ngantuk dan jatuh tertidur lelap.

Aku bangkit ke kamar mandi membersihkan diri. Dari kamar mandi aku segera mengeluarkan kamera digital. Berbagai posisi Rini yang sedang mendengkur aku abadikan. Tentu saja tanpa lampu kilat, karena lampu kamar yang kunyalakan seterang mungkin sudah cukup cahayanya untuk mengambil gambar. Ketika kakinya kutekuk dan kukangkangkan, Rini tidak juga terbangun dari tidurnya. Aku jadi tambah leluasa mengambil foto di bagian vitalnya.

Setelah puas aku kembali menyimpan kameraku dan aku berbaring disampingnya dan menarik selimut . Kami tidur dalam satu selimut.

Aku tidak tahu berapa lama tertidur. Aku merasa dingin dan barangku seperti sedang digarap. Aku melirik ke bawah, ternyata Rini sedang mengoralku. Barangku sudah mengeras dengan sempurna. Aku tidak sadar sejak kapan dia mulai bangun, mungkin barangku lebih dulu bangun dari majikannya.

Kelihatannya Rini ketagihan dengan pengalaman pertamanya yang membawa dia ke langit ke 7.

Aku tetap purapura tidur untuk melihat apalagi yang akan dilakukan Rini terhadapku. Karena aku telah mengalami ejakulasi pertama, maka pertahananku sekarang cukup tangguh. Aku bisa menahan selama mungkin agar tidak muncrat ketika dioral.

Aku merasa dia lama sekali mengoralku, mungkin mulutnya mulai pegal menyosori k0ntolku yang meneras.

Rini lalu bangkit dan dia berlutut mengangkangki tubuhku. Dipegangnya k0ntolku lalu dia membawa ke gerbang memeknya. Pelanpelan direndahkan badannya sampai pelanpelan batang k0ntolku masuk ke dalam memeknya. Rini kelihatannya agak mengernyit. Mungkin masih ada rasa perih ketika peniku menerobos masuk memeknya. Tapi dia tetap memaksakan agar seluruh k0ntolku ditelan memeknya.

Setelah masuk sempurna. Rini mulai meniak turunkan badannya. Mungkin kontrol terhadap keluar masuknya barangku kurang bagus, sehingga sering terlepas.

Setelah dia kembali menjebloskan k0ntolku ke lubang memeknya dia tidak lagi bergerak naik turun, tetapi bergerak maju mundur.

Akhirnya dia menemukan posisi yang tepat dimana kemaluanku bisa menyentuh clitorisnya dan menekan G spotnya. Dia tidak bergerak terlalu jau



Advertisement
OperationEyesight.com
Entry Rating:     Why ratings?
Please Rate:  
Thank you for voting!
Share |